Langsung ke konten utama

KENAPA TIDAK ADA KOMITE WALI SANTRI DI PESANTREN ?

dok.prib Fatiyya dkk Kelas 1 A DUPI 1
Hampir setahun putri kami mondok di Darul Ukhuwah Putri 1 Malang, Alhamdulillah banyak perubahan yang ada pada diri ananda, sudah hafal 3 juz, sudah lancar berbahasa Arab dan bahasa Inggris, kemandirian dan kedisiplinanpun mulai terbentuk. 

Apa yang didapat oleh ananda tidak mudah, butuh perjuangan ekstra keras, rela bangun lebih awal, naik turun tangga asrama ke sekolah tiap hari, padatnya agenda pesantren seolah seperti kerja rodi, keluh kesah santri seolah tak pernah berhenti yang kadang membuat walisantri bertukar curhat di grup-grup WA dan medsos sesuai penafsirannya sendiri. Di era digitalisasi semua tanpa sekat dan tak ada yang ditutup-tutupi, tapi dari situlah justru bisa membuka jatidiri dan membuka aib sendiri, ibarat pepatah menepuk air didulang terpercik kemuka sendiri.

Dari beragam kisah yang dialami santri terbersit sebuah usulan seharusnya Pondok Pesantren ada komite pesantren seperti halnya sekolah umum yang ada komite sekolahnya. Sepanjang sepengetahuan saya, baik sebagai santri saat mondok di pesantren hingga dua kali memondokkan anak di dua pesantren yang berbeda, belum pernah saya jumpai pondok pesantren yang ada komite walisantrinya, baik itu pondok salaf tradisional maupun pondok modern. Bahkan saya juga pernah bertukar kabar dengan teman-teman yang memondokkan anaknya di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, di pondokan anak-anak mereka juga tidak ada komite walisantri. Kenapa demikian ?

Karena, ketika kita memasukkan anak ke pondok  pesantren dan berharap anak-anak kita kerasan di pondok pesantren dengan segala aturan yang sudah kita tandatangani, disitulah awal kita sebagai orang tua juga harus siap memondokkan hati, akal dan jiwa kita, meskipun kita sebagai orang tua tinggal rumah sedangkan anak-anak tinggal di pondok pesantren. Karena dalam perjalanan pendidikan di pondok pesantren yang akan diuji bukan hanya santrinya, tapi juga orang tuanya.

Jika disekolah umum baik negeri maupun swasta dibentuk lembaga orang tua murid atau komite sekolah yang mana komite sekolah memberi masukan kepada sekolah tentang proses pendidikan yang terbaik. Tapi komite sekolah atau komite walisantri tidak ada di Pesantren, kenapa?

Karena, dalam sejarah pondok pesantren, berawal dari adanya seorang kiai, datang kemudian beberapa orang santri yang ingin berguru kepada sang kiai. Karena rumah tinggal kiai tidak cukup, para santri tersebut kemudian bersama-sama membangun sendiri bangunan di sekitar rumah kiai untuk sarana tinggal dan mencukupi kebutuhannya. Jadi jelaslah di sini bahwa santrilah yang minta ilmu kepada kiai, santri minta untuk dididik, dibina, dibekali dengan bekal kelimuan yang cukup. Jadi santri yang minta ilmu, bukan kiainya yang nawarin ilmu. 

Artinya santri adalah tamu yang harus taat dan patuh sepenuhnya kepada kiai sebagai tuan rumah tanpa harus ikut mengatur apalagi protes terhadap segala aturan dan kebijakan tuan rumah. Maka jika seseorang itu masuk pondok pesantren lalu merasa kurang cocok dengan kondisi di pondok pesantren itu, ya monggo saja keluar. Terkait ketidakcocokan wali santri pada aturan pondok pesantren pernah saya tulis di blog https://aripimawan.blogspot.com/2022/08/wali-murid-yang-suul-adab-penyebab.html

Balik kepersoalan kenapa di pondok pesantren tidak ada organisasi wali santri atau komite wali santri sebagaimana komite wali murid di sekolah pada umumnya?

Karena, jika ada organisasi wali santri, hal itu bisa menimbulkan persoalan baru karena wali santri bisa ikut campur dalam urusan kepesantrenan. Contoh, ada santri yang mengeluh makanan tidak enak, lalu usul makanannya ditambahin lagi menunya. Ada santri mengeluh tidak bisa tidur karena udara lembab panas, lalu usul kamarnya ada AC-nya, ada santri kehilangan sandal lalu usul agar di pondok ada satpam, ada santri tidak senang tidur dengan banyak teman akhirnya usul ada kamar VIP, ada santri mengeluh tidak mau dihukum akhirnya usul hilangkan hukuman, ya rusak tatanan dan aturan di pondok pesantren he..he.. kenapa ?

Karena, berbagai macam ego akan muncul dari dalam wali santri sesuai dengan keluhan anak-anaknya. Ego itulah yang harus di hilangkan, karena ego pribadi itu merusak sistem yang sudah dibangun pondok pesantren atas dasar keihklasan.

Sistem pendidikan dipondok pesantren sudah teruji berabad-abad lamanya, dimana sistem pendidikan di pondok pesantren dengan kurikulum 24 jam yang berpengaruh pada pola pembentukan mental santri, jadi pondok pesantren tidak hanya mengejar nilai akademis semata tapi pendidikan karakter yang akan menjadi bekal di masyarakat juga diajarkan baik dari sisi kedisiplinan dan kemandirian.

Jadi, sebelum kita memasukkan anak-anak ke pondok pesantren, sebaiknya dipertimbangkan dengan matang, karena sistem pendidikan di pondok pesantren jauh berbeda dengan sistem pendidikan di sekolah pada umumnya yang menggunakan kurikulum yang sudah diatur oleh pemerintah. Silahkan dibaca juga artikel di blog http://aripimawan.blogspot.com/2022/08/libatkan-anak-dalam-memilih-pondok-agar.html siapa tahu bisa jadi referensi. .

Sekali lagi, jika dibentuk organisasi wali santri, yang muncul adalah adalah ego antar walisantri yang menginginkan kesenangan bagi anaknya dan jangka panjangnya justru merusak masa depan santri itu sendiri, keluar pondok pesantren tidak ada perubahan baik dari sisi mental karakter bahkan kemandiriannya, karena hidup di rumah dan pondok pesantren sama saja.

Sedikit berbagi, karena saya juga pernah jadi santri dan kini menjadi wali santri, jika ingin memasukkan anak ke pesantren, niat yang pertama haruslah ikhlas dididik dengan segala fasilitas yang ada dipondok pesantren, ikhlas dibina dengan disiplin dengan aturan yang ada, ikhlas menerima apapun yang akan diterima oleh anak jika anak kita melanggar. Jika kurang suka dengan sistem pondok pesantren, ya monggo saja menarik diri dari pondok pesantren. Karena ya itulah bedanya pondok pesantren dan sekolahan pada umumnya.

Sesama wali santri, mari saling mengingatkan tujuan awal kita memasukkan anak kita ke pondok pesantren, dengan berbagai tes yang ditempuh bahkan kita berdoa siang malam agar anak kita diterima di pondok pesantren yang menurut kita pondok modern dan bonafide yang bisa mendidik anak-anak kita menjadi pribadi yang berahklaul karimah, tapi ketika sudah diterima dan kita sebagai wali santri justru minta ini dan itu sesuai keinginan kita ke pondok pesantren, justru hal ini yang aneh.

Sebagai penutup saya kutip nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal dari Gontor, beliau mengatakan “Pesantren bukan restoran Padang, di mana setiap pelanggannya bisa pesan menu sesuka hati. Pesantren sudah memiliki menu sendiri, bagi yang suka silahkan bagi yang tidak suka silahkan mencari lembaga yang bisa melayani keinginan pelanggannya"

Mohon maaf jika tulisan di blog ini kurang berkenan dihati pembaca, tapi dimanapun berada pro kontra itu selalu ada. 

Komentar

  1. MaasyaAllah Jazaakumullah Khairan

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah... Saya mendapat masukan membuat saya merasa tenang dan bangga anak saya masuk pesantren semoga ananda² yg masuk pesantren mendapat ilmu yg bermanfaat, barokah aamiin

    BalasHapus
  3. Adziiim.... sepakat

    BalasHapus
  4. MasyaAllah.. terimakasih sudah berbagi.. semoga menjadi amal jariah
    aamiin

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah... Semoga makin banyak wali santri yg teredukasi.. terimakasih

    BalasHapus
  6. MasyaAllah.. saya sepakat sekali bapak.. kebetulan putri qt satu pondok.. Bismillah semoga selalu mendapat keberkahan ilmu d dunia dan d akhirat.. Aamiin

    BalasHapus
  7. Sip, mantap... Matur nuwun pencerahannya

    BalasHapus
  8. sami'na wa ato'na

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Relawan PKS Jatim: Dari Ritsleting Ajaib Hingga Mie Pesawat

Ini kali ke-3 saya menjadi relawan kemanusiaan, yang pertama saat gunung merapi meletus ditahun 2010 yang banyak menelan korban jiwa diantaranya mbah Marijan juru kunci gunung merapi. Dan terjun menjadi relawan kedua kalinya saat gunung kelud meletus ditahun 2014. Dan awal tahun 2026 ini merupakan perjalanan terjauh menjadi relawan sekaligus menemani dan mengawal orang nomor satu di DPW PKS Jawa Timur, pak Bagus Prasetia Lelana. Karena membersamai ketua DPW, saya kira   perjalanan ini akan penuh dengan rapat dan diskusi serius tentang kemanusiaan. Ternyata saya salah, sangat salah, selama sepekan menemani pak Bagus, dalam aksi tanggap bencana di Aceh Tamiang, yang terjadi justru kelucuan demi kelucuan, dari sebelum berangkat sampai pulang yang merupakan cobaan iman dan kesabaran saya wkwkwk. Ritsleting Ajaib: Saku yang Ada Tapi Tak Pernah Ada Bermula dari informasi dari relawan yang sudah hadir duluan di Aceh Tamiang, jika disana tidak ada bank karena kondisi lumpuh total dan...

PASANG BARU PDAM GRESIK, GAMPANG DAN CEPAT

Air merupakan kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan bagi manusia, karena merupakan kebutuhan primer. Air untuk minum, mandi, cuci dan seabrek kebutuhan lain yang tak bisa dilepaskan dari air. dok pribadi Kantor Pusat PDAM Giri Tirta Gresik Saya akan berbagi pengalaman tentang cara daftar baru sebagai pelanggan PDAM. Kebetulan saya tinggal di wilayah Gresik maka sayapun datangi PDAM Giri Tirta Gresik yang berada di jalan Permata No. 7 Graha Bunder Asri Gresik Pertama – tama sebelum datang ke kantor PDAM, siapkan dahulu persyaratannya: 1.        Foto Copy KTP 2.        Foto Copy KK 3.        Foto Copy PBB 4.        Foto Copy SHM / AJB 5.        Foto Copy PLN 6.        Foto Copy Tagihan PDAM milik tetangga 7.        Surat Pengantar dari RT setempat ...

SYAIKH HASAN ASY SYADZILY, TOKOH SUFI YANG KAYA RAYA

Quthbul Muhaqqiqin Sulthonil Auliya’is Sayyidinasy Syekh Abul Hasan Ali asy-Syadzily  lahir Ghumarah, Maroko, tahun 593H/1197 M. Beliau wafat di Humaitsara, Mesir, tahun 656 H/1258 M. Beliau merupakan Pendiri Tarekat Syadziliyah yang merupakan salah satu tarekat sufi terkemuka di dunia. Beliau dipercayai oleh para pengikutnya sebagai salah seorang keturunan Nabi Muhammad saw. yang lahir di desa Ghumarah, dekat kota Sabtah, daerah Maghreb (sekarang termasuk wilayah Maroko, Afrika Utara) pada tahun 593 H/1197 M. Berikut ini nasab Abu Hasan Asy-Syadzili : Abul Hasan, bin Abdullah Abdul Jabbar, bin Tamim, bin Hurmuz, bin Hatim, bin Qushay, bin Yusuf, bin Yusya’, bin Ward, bin Baththal, bin Ahmad, bin Muhammad, bin Isa, bin Muhammad, bin Hasan, bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah binti Rasulullah saw.  Syekh Abul Hasan asy-Syadzali meninggal dunia di Iskadariyah...

Ormas Berbasis Suku: Antara Identitas Budaya dan Tantangan Persatuan Bangsa

Dipenghujung akhir 2025, viral di media massa, seorang Dosen yang berseteru dengan salah satu ormas yang berbasis kesukuan di Malang. Selang beberapa bulan, viral kembali seorang nenek di Surabaya yang diusir paksa oleh oknum yang disinyalir dari ormas kesukuan tertentu yang memicu kegeraman masyarakat  luas. Sebagai praktisi hukum, saya berpandangan, tidak ada larangan sekelompok orang membuat wadah berupa organisasi masyarakat (ormas) kesukuan untuk melestarikan budaya, bahasa dan tradisi daerah agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Selain itu, ormas kesukuan juga dapat menjadi sarana solidaritas sosial, terutama bagi masyarakat perantau yang membutuhkan dukungan sosial dan kebersamaan di lingkungan baru. Tantangan terhadap Persatuan Bangsa Meski demikian, ormas berbasis suku juga menyimpan potensi tantangan. Ketika identitas kesukuan ditonjolkan secara berlebihan, muncul risiko eksklusivitas yang memisahkan “kelompok sendiri” dari masyarakat luas. Kondisi ini dapat memicu...

ANTASENA DI TEMARAM DUPI ONE

Aksi Santri Dupi One Temaram XI Sabtu 13 Juli 2024, atas undangan Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah Putri 1 (DUPI One) saya menghadiri Milad sekaligus Temaram (Tebar Semangat Muharram) ke-11 ini bersama istri dan anak. Sesuai himbauan pihak pondok agar para tamu undangan tidak membawa kendaraan roda 4, sebagai wujud mematuhi aturan pondok saya pun menggunakan transportasi online Gocar untuk menuju pondok, alhamdulillah lancar dan tidak terjadi kemacetan akibat crowded akses jalan yang sempit seperti saat awal kedatangan maupun perpulangan santri Setibanya di lokasi, banyak stand bazar yang disajikan, dari kulineran hingga pakaian yang rupanya stand – stand tersebut merupakan sponsorship dari rangkaian Temaram. Kata putri saya “Ayah, Temaramnya habisin biaya banyak banget (sambil nyebutin angka dalam rupiah)”, saya tersenyum dan justru bangga Pasca melewati stand bazar, saya langsung menuju Hall Masjid Aisyah binti Abu Bakar dan disambut dengan senyum ramah para santri penerima t...