Ini kali ke-3 saya menjadi relawan kemanusiaan, yang pertama saat gunung merapi meletus ditahun 2010 yang banyak menelan korban jiwa diantaranya mbah Marijan juru kunci gunung merapi. Dan terjun menjadi relawan kedua kalinya saat gunung kelud meletus ditahun 2014.
Dan awal tahun 2026 ini merupakan perjalanan terjauh menjadi relawan sekaligus menemani dan mengawal orang nomor satu di DPW PKS Jawa Timur, pak Bagus Prasetia Lelana. Karena membersamai ketua DPW, saya kira perjalanan ini akan penuh dengan rapat dan diskusi serius tentang kemanusiaan. Ternyata saya salah, sangat salah, selama sepekan menemani pak Bagus, dalam aksi tanggap bencana di Aceh Tamiang, yang terjadi justru kelucuan demi kelucuan, dari sebelum berangkat sampai pulang yang merupakan cobaan iman dan kesabaran saya wkwkwk.
Ritsleting Ajaib: Saku yang Ada Tapi Tak Pernah Ada
Bermula dari informasi dari relawan yang sudah hadir duluan di Aceh Tamiang, jika disana tidak ada bank karena kondisi lumpuh total dan harap bawa bantuan uang tunai, saya pun bawa uang tunai yang akan saya masukkan ke saku celana dan baju agar aman dalam perjalanan. Untuk lebih savety nya, saya kepasar ketukang jahit langganan dan request agar 6 saku celana tactical saya di kasih ritsleting khusus untuk menyimpan uang.
Setelah selesai dikasih ritsleting, celana tersebut langsung saya bawa pulang tanpa saya cek karena sudah percaya dan menjadi langganan. Hingga pas di hari H keberangkatan, dengan penuh percaya diri, saya mencoba memasukkan uang ke saku tersebut. Dan…
Saku itu terjahit. Permanen. Tidak bisa dibuka. Resleting ada. Saku ada. Fungsi? Tidak ada. Entah maksud tukang jahitnya ingin menjaga uang saya dari copet atau dari saya sendiri copetnya wkwkwk
Hairdryer untuk Seragam Kepanduan
Sepulang dari tukang jahit, celana saya kasihkan istri, dan saya pergi lagi untuk nyuci mobil. Bakda asar saya packing perlengkapan yang akan dibawa ke Aceh, saya cari baju dan celana kepanduan, dan betapa kagetnya saya, ternyata celana dan baju kepanduan yang akan saya pakai ternyata belum kering karena baru dicuci istri, saya juga lupa memberitahu istri jika baju kepanduan akan saya pakai berangkat ke Ace, sedangkan sudah menjadi kebiasaan dikeluarga, jika ada baju baru pasti dicuci dulu, dan kebetulan baju dan celana tersebut baru dikasih ketua MPD PKS Gresik yang masih ada labelnya, saya cuma bisa ngedumel dan istripun kekeh dengan pendiriannya dan justru menyalahkan saya kenapa tidak bilang jika bajunya dipakai, dan saat saya memberikan celana dari tukang jaahit dikiranya disuruh nyucikan karena masih baru.
Ngedumel pun tidak menyelesaikan masalah, baju masih mamel belum kering, cuma ada satu solusi, hairdryer. Maka petang itu juga saya mengeringkan baju dan celana kepanduan dengan alat yang biasanya dipakai untuk mengeringkan rambut. Di titik ini saya sadar, misi kemanusiaan memang membutuhkan fleksibilitas termasuk fleksibilitas alat rumah tangga wkwkwk
Pak Bagus vs Mie Pesawat: Sensasi yang tidak terjadi
Masuklah kita ke episode favorit sepanjang perjalanan, urusan mie instan wkwkwkw
Perjalanan dari Juanda Surabaya menuju Kualanamu Medan, di dalam pesawat.Super Air Jet, Pak Bagus ingin sensasi makan mie di udara. Saat pramugari lewat menawarkan snack minuman dan makanan, pak Bagus pun pesan mie instan, jawaban pramugari sungguh filosofis, “Mienya ada, Pak… tapi air panasnya tidak ada.”
Mie ada, air panas tidak ada. Sebuah pelajaran hidup bahwa niat baik belum tentu didukung semesta wkwkwkw
Saat perjalanan pulang dari Medan ke Surabaya transit di Jakarta dengan maskapai Lion Air, pak Bagus yakin bisa mendapatkan sensasi makan mie diatas awan, betul juga, saat ada pramugara lewat menawarkan snack minuman dan makanan, Pak Bagus pesan mie, dan apa yang terjadi? Mienya habis, tepat di kursi depan beliau, kursi 26 D, sedangkan kursi pak Bagus 27 D, nasib nasib wkwkwkwk
Gagal dua kali mencari sensasi makan mie di pesawat, tak memupuskan tekad pak Bagus, kali ini harus berhasil. Dari Jakarta ke Surabaya naik pesawat Batik Air, Pak Bagus percaya diri saat pramugari menawarkan snack minuman dan makanan, pak Bagus pesan mie goreng 3 porsi, mie kuah 1 porsi, “baik bapak” kemudian pramugari menunjukkan Pop Mie dengan dua varian pilihan, kare ayam atau soto? Pak Bagus memilih kare ayam “baik bapak, harganya 115 ribu, bisa kami terima pembayarannya terlebih dahulu?” saya pun gerak cepat memberikan uang 115 ribu ke pramugari disaat ndan Arifin masih meraba-raba saku baju mencari uangnya. Setelah pramugari menerima uang bergegaslah ke ruang belakang. Pak Bagus tersenyum senang, sensasi makan mie diatas awan terkabulkan
Selang dua menitan, pramugari kembali dengan wajah penuh penyesalan “Mohon maaf, bapak… air panasnya habis, ini uangnya saya kembalikan, jika bapak berkenan ada roti sebagai permintaan maaf kami” pak Bagus pun mengangguk. Setelah pramugari pergi, saya, pak Bagus dan ndan Arifin ketawa. Di titik ini, mie instan bukan lagi makanan, mie instan telah menjadi ujian kesabaran, wkwkwkw
Hotel: Negosiasi Hidup Mati
Rencana awal kembali ke Surabaya menginap dulu di Hotel Grandhika Medan, ndan Arifin sudah booking satu kamar untuk bertiga, tapi mendadak ndan Kukuh ikut pulang karena ada urusan pekerjaan, karena empat orang, solusinya nambah satu kamar lagi. Saya pun booking hotel Grandhika Medan bakda Jum’atan, dan betapa kagetnya saya saat konfirmasi ke resepsionist jika bookingan saya tidak ada dihari tersebut, setelah saya cek invoice pemesanan tertulis checkin tanggal 17 Januari 2026, ya Allah… saya salah masukin tanggal, yang seharusnya check in tanggal 16 Januari dan check out tanggal 17 Januari justru saya booking di tanggal 17 Januari.
Saya pun meminta agar reschedule menjadi tanggal 16 Januari, tapi Resepsionis tetap kekeh bookingan saya tidak bisa direschedule karena kebetulan tanggal 16 Januari tipe kamar yang sama seperti yang saya pesan sudah full, jika ingin nginap di tanggal 16 Januari masih tersedia kamar type Suite.
Saya sampaikan, jika tidak bisa direschedule, ya sudah di cancel saja, dan refund nya akan saya pakai untuk booking yang type suite. Karena saya pesannya via website resmi hotel, maka permintaan cancelnya juga harus melalui website. Setelah saya cari-cari menu cancel/pembatalan di website tidak ada, saya pun complain, website apa an ini, tidak ada menu reschedule maupun cancel, jika begini hotel mau enaknya sendiri dan merugikan konsumen, resepsionis tetap kekeh dengan SOP hotel, akhirnya saya minta untuk disambungkan dengan manager hotel, kemudian beberapa menit kemudian, saya ditelpon oleh manager hotel yang bernama Rio dan menyampaikan permohonan maaf, untuk reschedule bisa dan dipersilahkan langsung ke hotel sesuai tanggal permitaan 16 Januari 2026
Dari pengalaman salah tanggal booking hotel, saya belajar satu hal, salah tanggal itu manusiawi, tapi negosiasi itu seni wkwkwkw
Durian: Saya Tidak Suka, Tapi Saya Makan
Perjalanan dari Aceh Tamiang menuju Hotel Grandhika Medan melewati Ucok Durian, pak Bagus dan ndan Arifin mengajak saya jalan-jalan dan menikmati durian dimalam hari, namun saya menolak dengan halus dengan alasan bikin konten untu laporan, padahal cuma sebagai alasan karena saya tidak suka durian.
Bakda Magrib saat di kamar hotel, dapat telpon dari teman Lawyer asal Medan, bang Khoirul Anwar Hasibuan yang mengajak untuk ngobrol di Ucok Durian khas Medan. Menolak undangan teman lama sungguh tidak elok, mau tidak mau ya saya sanggupi, dan berangkatlah kami berempat ke Ucok Durian mengendarai Grab Car.
Sesampainya di Ucok Durian, saya bertemu dengan rekan sejawat advokat Khoirul Anwar Hasibuan, dan duduklah kami berlima dan memesan durian. Saya lihat pak ketua Bagus, ndan Arifin ndan Kukuh dan rekan Khoirul dengan lahap menyantap durian, untuk menghormati undangan teman dan ajakan pak ketua Bagus, dengan agak terpaksa saya cuil dan ambil biji durian yang paling kecil dan saya makan, saya rasakan seperti bau bensin dan rasanya entah apa rasanya tidak bisa saya bayangkan wkwkwkwk
Untuk menemani ngobrol dimalam itu, saya pesan minuman juice alpukat dan jelly sebagai ganti makan durian wkwkwk
Hikmah Perjalanan
Di balik lelah, lumpur, dan kerja kemanusiaan di Aceh Tamiang, perjalanan ini memberi saya pelajaran penting, bahwa mendampingi pimpinan bukan hanya soal agenda dan rapat, tapi juga soal tertawa bersama di tengah ketidaksempurnaan. Dan bahwa mie instan, jika terus gagal dimakan, bisa berubah menjadi legenda.
Terima kasih Aceh Tamiang, terima kasih Pak Bagus. Dan terima kasih untuk semua kejadian kecil yang membuat perjalanan ini tak terlupakan dan tak mungkin diceritakan tanpa tertawa


.jpeg)



Komentar
Posting Komentar