Langsung ke konten utama

DAMPAK COVID-19 PICU KRIMINALITAS

Dalam dua Minggu terakhir, saya dapat beragam curhatan dari beberapa teman dan kolega terkait dampak mewabahnya Covid-19, diantaranya ada yang dirumahkan dari tempat kerjanya, ada yang di PHK, ada yang omset bisnis garmennya turun drastis hingga 80%, ada yang kredit macet tidak bisa angsur rumah, tidak bisa angsur motor, ada yang curhat tidak bisa bayari guru-gurunya karena sekolahnya swasta, ada yang curhat rumahnya sudah di plangkat sita Bank, bahkan ada yang curhat dibuat untuk makan besok saja masih bingung, sert ada juga teman yang nawarin kendaraannya untuk dijual karena mereka sudah tidak punya lagi stok keuangan jika lockdown betulan dilakukan, bahkan ada WA masuk yang isinya minta zakatan dibagikan sekarang jangan nunggu puasa.

Dari beberapa curhatan tersebut kebanyakan yang mereka sampaikan terkait ekonomi, cari kerja susah, PHK dimana-mana, bahkan ada teman yang bilang, "wis gak mikir Klambi riyoyoan, sing penting onok sing dipangan sak Iki wis untung/sudah tidak mikir baju lebaran, yang penting ada yang dimakan sekarang sudah untung" itulah fakta yang dihadapi saat ini

Sebagai praktisi hukum, saya membacanya ini akan menjadi bom waktu bagi negeri ini jika tidak cepat diantisipasi, kenapa? Karena faktor ekonomi salah satu penyebab terjadinya sebuah tindak kejahatan kriminalitas. Masyarakat yang ekonominya lemah cenderung akan melakukan tindak kejahatan entah itu pencurian, penjambretan, pencopetan, perampokan hingga penjarahan.

Dalam kurun beberapa tahun terakhir kriminalitas terjadi biasanya memasuki tahun ajaran baru dimana biaya sekolah yang membumbung tinggi, menjelang tahun baru dan menjelang lebaran dimana masyarakat membutuhkan kebutuhan ekstra untuk biaya anak sekolah, untuk kebutuhan natal tahun baru serta kebutuhan mudik lebaran dan lain sebagainya.

Pengangguran yang meningkat dikarenakan banyaknya PHK akibat lesunya ekonomi, banyak pabrik gulung tikar juga bisa menjadi penyebab maraknya tindak kriminalitas, yang biasanya dapat penghasilan dari kerja kemudian dipaksa berhenti tidak bekerja karena PHK sedangkan skill tidak ada terus apa yang harus ia perbuat? Ketika mata sudah gelap, hati tertutup, pinjam sana sini tidak dapat, atas nama dalil keterpaksaan tindak kriminal pun mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ketidakadilan juga akan memicu tindak kriminal ditengah masyarakat, bisa jadi hukum jalanan terjadi bila keadilan tidak ditegakkan, apalagi sudah menjadi rahasia umum dimasyarakat terjadinya KKN demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Banyak kasus yang terungkap ketika pembagian bansos para penerima ternyata kroni-kroninya dan cuma sebagian kecil saja yang tersalurkan dimasyarakat. Dan saya membayangkan apabila itu terjadi ketika suatu daerah memberlakukan lockdown atau yang sekarang di sebut PSBB, suplay sembako atau bansos dari pemerintah yang didistribusikan lewat perangkat-perangkat daerah hingga desa, namun tidak tepat sasaran dan ditimbun segelintir oknum perangkat yang menyebabkan ketidakadilan tidak menutup kemungkinan keributan amuk massa dan penjarahan akan terjadi karena mewabahnya Covid-19 ini susah diprediksi kapan berakhirnya.

Mungkin institusi Polri sudah mendeteksi akan terjadinya tindak kriminal, tak mengherankan jika jauh-jauh hari Polri sudah mensosialisasikan dan menyiapkan pasukan nya untuk mengantisipasi tindak kriminalitas kerusuhan dan penjarahan yang terjadi dimasa Covid-19.

Faktor ekonomi, pengangguran dan ketidakadilan yang memicu tindak kriminal harus diantisipasi oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini pemerintahan, dengarkan keluh kesah masyarakat, terima saran dari para pakar yang berkompeten baik pakar kesehatan tentang penanggulangan covid-19 dan pakar ekonomi dan tokoh masyarakat demi tercapainya stabilitas ekonomi dan keadilan dimasyarakat. Dan jangan sampai pemerintah menutup diri dari saran dan kritik masyarakat serta main ancam yang kritik pemerintah penjara, hal tersebut justru akan memantik gejolak dan perlawanan yang lebih besar, jika sudah seperti tinggal tunggu bom waktu kriminalitas semakin brutal dan merajalela, karena hak-hak masyarakat merasa diabaikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Relawan PKS Jatim: Dari Ritsleting Ajaib Hingga Mie Pesawat

Ini kali ke-3 saya menjadi relawan kemanusiaan, yang pertama saat gunung merapi meletus ditahun 2010 yang banyak menelan korban jiwa diantaranya mbah Marijan juru kunci gunung merapi. Dan terjun menjadi relawan kedua kalinya saat gunung kelud meletus ditahun 2014. Dan awal tahun 2026 ini merupakan perjalanan terjauh menjadi relawan sekaligus menemani dan mengawal orang nomor satu di DPW PKS Jawa Timur, pak Bagus Prasetia Lelana. Karena membersamai ketua DPW, saya kira   perjalanan ini akan penuh dengan rapat dan diskusi serius tentang kemanusiaan. Ternyata saya salah, sangat salah, selama sepekan menemani pak Bagus, dalam aksi tanggap bencana di Aceh Tamiang, yang terjadi justru kelucuan demi kelucuan, dari sebelum berangkat sampai pulang yang merupakan cobaan iman dan kesabaran saya wkwkwk. Ritsleting Ajaib: Saku yang Ada Tapi Tak Pernah Ada Bermula dari informasi dari relawan yang sudah hadir duluan di Aceh Tamiang, jika disana tidak ada bank karena kondisi lumpuh total dan...

PASANG BARU PDAM GRESIK, GAMPANG DAN CEPAT

Air merupakan kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan bagi manusia, karena merupakan kebutuhan primer. Air untuk minum, mandi, cuci dan seabrek kebutuhan lain yang tak bisa dilepaskan dari air. dok pribadi Kantor Pusat PDAM Giri Tirta Gresik Saya akan berbagi pengalaman tentang cara daftar baru sebagai pelanggan PDAM. Kebetulan saya tinggal di wilayah Gresik maka sayapun datangi PDAM Giri Tirta Gresik yang berada di jalan Permata No. 7 Graha Bunder Asri Gresik Pertama – tama sebelum datang ke kantor PDAM, siapkan dahulu persyaratannya: 1.        Foto Copy KTP 2.        Foto Copy KK 3.        Foto Copy PBB 4.        Foto Copy SHM / AJB 5.        Foto Copy PLN 6.        Foto Copy Tagihan PDAM milik tetangga 7.        Surat Pengantar dari RT setempat ...

SYAIKH HASAN ASY SYADZILY, TOKOH SUFI YANG KAYA RAYA

Quthbul Muhaqqiqin Sulthonil Auliya’is Sayyidinasy Syekh Abul Hasan Ali asy-Syadzily  lahir Ghumarah, Maroko, tahun 593H/1197 M. Beliau wafat di Humaitsara, Mesir, tahun 656 H/1258 M. Beliau merupakan Pendiri Tarekat Syadziliyah yang merupakan salah satu tarekat sufi terkemuka di dunia. Beliau dipercayai oleh para pengikutnya sebagai salah seorang keturunan Nabi Muhammad saw. yang lahir di desa Ghumarah, dekat kota Sabtah, daerah Maghreb (sekarang termasuk wilayah Maroko, Afrika Utara) pada tahun 593 H/1197 M. Berikut ini nasab Abu Hasan Asy-Syadzili : Abul Hasan, bin Abdullah Abdul Jabbar, bin Tamim, bin Hurmuz, bin Hatim, bin Qushay, bin Yusuf, bin Yusya’, bin Ward, bin Baththal, bin Ahmad, bin Muhammad, bin Isa, bin Muhammad, bin Hasan, bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah binti Rasulullah saw.  Syekh Abul Hasan asy-Syadzali meninggal dunia di Iskadariyah...

Ormas Berbasis Suku: Antara Identitas Budaya dan Tantangan Persatuan Bangsa

Dipenghujung akhir 2025, viral di media massa, seorang Dosen yang berseteru dengan salah satu ormas yang berbasis kesukuan di Malang. Selang beberapa bulan, viral kembali seorang nenek di Surabaya yang diusir paksa oleh oknum yang disinyalir dari ormas kesukuan tertentu yang memicu kegeraman masyarakat  luas. Sebagai praktisi hukum, saya berpandangan, tidak ada larangan sekelompok orang membuat wadah berupa organisasi masyarakat (ormas) kesukuan untuk melestarikan budaya, bahasa dan tradisi daerah agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Selain itu, ormas kesukuan juga dapat menjadi sarana solidaritas sosial, terutama bagi masyarakat perantau yang membutuhkan dukungan sosial dan kebersamaan di lingkungan baru. Tantangan terhadap Persatuan Bangsa Meski demikian, ormas berbasis suku juga menyimpan potensi tantangan. Ketika identitas kesukuan ditonjolkan secara berlebihan, muncul risiko eksklusivitas yang memisahkan “kelompok sendiri” dari masyarakat luas. Kondisi ini dapat memicu...

ANTASENA DI TEMARAM DUPI ONE

Aksi Santri Dupi One Temaram XI Sabtu 13 Juli 2024, atas undangan Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah Putri 1 (DUPI One) saya menghadiri Milad sekaligus Temaram (Tebar Semangat Muharram) ke-11 ini bersama istri dan anak. Sesuai himbauan pihak pondok agar para tamu undangan tidak membawa kendaraan roda 4, sebagai wujud mematuhi aturan pondok saya pun menggunakan transportasi online Gocar untuk menuju pondok, alhamdulillah lancar dan tidak terjadi kemacetan akibat crowded akses jalan yang sempit seperti saat awal kedatangan maupun perpulangan santri Setibanya di lokasi, banyak stand bazar yang disajikan, dari kulineran hingga pakaian yang rupanya stand – stand tersebut merupakan sponsorship dari rangkaian Temaram. Kata putri saya “Ayah, Temaramnya habisin biaya banyak banget (sambil nyebutin angka dalam rupiah)”, saya tersenyum dan justru bangga Pasca melewati stand bazar, saya langsung menuju Hall Masjid Aisyah binti Abu Bakar dan disambut dengan senyum ramah para santri penerima t...